Copyright © Semangat Matahari
Design by Dzignine
Rabu, 16 Maret 2011

Belajar Di Balik Kejadian Tsunami Di Jepang

Jepang adalah negara indah, modern dan canggih. Namun negara ini labil dimana sering ditimpa gempa bumi yang berakibat tsunami. Tsunami yang terjadi kemarin (Jumat, 11/03/11) dipicu oleh gempa bumi 8.9 SR mengoyak Tenggara Jepang, efeknya Tokyo dan puluhan kota lainnya ikut kena dampaknya. Konon bahkan memiliki dampak sampai ke Rusia, lebih jauh lagi sampai ke Maluku, Irian Jaya di Indonesia bahkan sampai di Hawaii. Di Hawaii  pemerintahnya menghimbau warganya untuk bersiap-siap hengkang menjauh dari bibir pantai padahal itu nun jauh di Amerika.

Betapa dahsyatnya melihat rekaman yang ditayangkan oleh berbagai media elektronik di negara kita, 384 orang tewas, ribuan rumah hancur, mobil, kapal dan kereta terbawa hanyut. Melihat betapa dahsyatnya tsunami tersebut membuat saya cemas, tak terbayangkan saudara-saudara kita yang mengalami bencana itu sendiri.. mudah-mudahan bagi yang meninggal amalnya bisa diterima disisiNya Yang Maha Esa dan bagi korban yang luka bisa sembuh lahir dan bathin.

Menguak Tuhan Melalui Buih Ombak

Betul apa yang dikatakan Kitab Suci bahwa semua yang ada di alam ini bergerak walaupun itu hanya sekedar gunung. Gunung itu tidak hanya yang telihat di depan mata kita, tetapi ada juga yang tenggelam dikubur oleh laut. Jadi, tanah yang kita injak ini walaupun kelihatannya diam padahal terus bergerak. Di Jepang gempa sebenarnya cukup jauh yaitu 10 km di kedalaman laut.

Membaca ‘bahasa’ alam, kita akan ‘memahami’ kemana kita akan dibawa. “Semua yang berada di alam akan merasakan fana (musnah). Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan” (Q.S. Ar Rahman 26-27).

Bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan bisa menangkap ”Ketakterbatasan”, karena hal itu bertentangan dengan kodrat penalaran yang cenderung memahami sesuatu dengan cara mengurai dan memberi batasan. Sesuatu yang tak terungkap dan tak terbatas, pastilah tak teruraikan. Dan sesuatu yang tak teruraikan pada hakikatnya tidak mungkin dicerap oleh perangkat pengetahuan dan pengalaman manusia. Wujud Mutlak atau Sang Wujud berada di luar wilayah analisis dan definisi, observasi ataupun verifikasi.


“Ombak besar menghantam rumah penduduk di sekitar kota Sendai, Minasoma ratusan nyawa jatuh bergelimpangan”.

Diciptakan oleh Allah dan kembali kepada Allah. Beberapa buih tersisa dari baju basah yang mereka kenakan. Buih-buih mencoba mengungkap samudera yang membawanya bergerak ke arah daratan. Bisakah buih menjelaskan dan menguraikan samudera? Perangkat apa yang dimiliki buih untuk mengenal dan mencerap samudera? Bukankah buih itu akan segera kehilangan identitas pada saat mereka sadar bahwa dia itu hanyalah buih yang tak berarti dalam samudera yang tak bertepi. Bagaimana mungkin buih-buih itu akan mengungkap Samudera kalau mengungkap gelombang ombak saja tidak bisa? Bahasa buih hanya mampu mengungkap bahasa, persepsi dan definisi sesama buih saja.
“Tiap-tiap buih mengalami kehadiran samudera dalam keseluruhan dirinya secara langsung dan konstan, sehingga tak mungkin lagi menangkap gagasan tentang hakikat samudera dan pengalaman kebuihan yang amat terbatas”.Oleh sebab itu, cara paling mungkin untuk mengenal Sang Wujud Mutlak ialah meminta Dia memperkenalkan Diri Nya. Agama adalah ruang lingkup manusia untuk membahas Dzat Ilahiah. Dzat Wujud Mutlak memperkenalkan Dirinya dalam bahasa perumpamaan (mitsal) dan ayat atau tanda yang dikenal manusia. Hanya dengan cara demikian Sang Mutlak itu dapat kita kenali, kita seru dan kita ingat, kita hadirkan dalam kalbu kita dan kita sayangi.

“Buih dan ombak besar itu bergerak menyapu apa-apa yang ada dipantai. Ketika ombak itu bergerak kita mengetahui bahwa gerakan ombak itu adalah proses yang dilalui untuk menuju kesempurnaan ombak”.

Diantara warga ada seorang pemuda yang tengah berwisata di pantai Fukushima mengetahui adanya gelombang tsunami bergerak menuju daratan, dia segera menarik kekasihnya untuk segera menyelamatkan diri.

Kita menyadari bahwa kecintaan adalah sesuatau yang sempurna, dan dibalik kecintaan pasangan itu ada kecintaan yang lebih besar dan mutlak. Lalu kita mencari asal-usul sifat sempurna itu pada manusia. Pengetahuan semacam ini tidak mungkin ada bilamana Allah tidak “membeberkan” Diri Nya di alam ciptaanNya ini.

Walaupun demikian, ciptaan tidak akan pernah sepenuhnya memahami ke-Penciptaan dalam bahasa dan pengalaman yang tak terbatas, layaknya buih tak mampu mengungkapkan samudera yang luas.Realitas ke-samudera-an hanya bisa dipahami oleh buih dalam bahasa perumpamaan.
 “Perumpamaannya seperti kelelawar hendak menatap matahari, yang ada hanya warna hitam kelam…maka semestinya buang nalar dan pegang teguh Realitas”.
Alam bermakna ilmu atau tanda (alamah). Apabila manusia mengamati tanda, maka bertambahlah ilmu pengetahuannya. Akan tetapi hakikat pengetahuan manusia itu sendiri hanyalah bias. Karena jenis dan sifat alam yang beragam itu maka lahirlah alam air, alam bawah tanah, alam binatang , alam manusia dan alam lainnya, sedemikian banyak alam (plural) maka dalam bahasa Arab disebut Alamin. Tak mampu kita menguak alam satu persatu mengingat kita sudah terperangkap oleh ruang dan waktu.

4 komentar: